Minggu, 12 Februari 2012

Laporan pendahuluan


DIARE

Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun (Depkes RI 1992). Hal ini sebanding dengan 1 anak meninggal setiap 15 detik atau 20 jumbo jet kecelakaaan setiap hari Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan yang menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)(Depkes RI 1992). Berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2003, penyakit diare menempati urutan kelima dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dan menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di Rumah Sakit. Berdasarkan data tahun 2003 terlihat bahwa frekuensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit diare sebanyak 92 kasus dengan 3865 orang penderita, 113 orang meninggal, dan Case Fatality Rate (CFR) 2,92%. Penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian (Setiawan 2007). Salah satu faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yang meliputi sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah. Data terakhir menunjukkan bahwa kualitas air minum yang buruk yang disebabkan sanitasi yang buruk yang menyebabkan kontaminasi bakteri E.coli dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat. Bakteri E.coli mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia. Kontaminasi bakteri E.coli terjadi pada air tanah yang banyak disedot penduduk di perkotaan, dan sungai yang menjadi sumber air baku di PDAM pun tercemar bakteri ini (Setiawan 2007) (http://erdie08.student.ipb.ac.id/2011/11/09/).

A. PENGERTIAN
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Secara etiologi, diare akut dapat disebabkan oleh infeksi, intoksikasi (poisoning), alergi, reaksi obat-obatan, dan juga faktor psikis (Zein, 2004).
Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997)
(http://erdie08.student.ipb.ac.id/2011/11/09/).
Menurut lamanya, diare dibedakan menjadi diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari awalnya mendadak dan diare kronik persisten yang berlangsung lebih dari 21 hari atau 3 minggu secara intermitten untuk anak-anak diberi batas waktu 2 minggu (Mansjoer, Arif. 2001)

B. PENYEBAB
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
2. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor Makanan:
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
C. TANDA DAN GEJALA
Apabila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair yang bersifat mendadak datangnya serta berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu (Setiawan 2007). Sering kali diare disertai kejang perut, terasa haus yang amat sangat, tidak mau makan, badan lesu, dan lemas demam dan muntah (pada orang tertentu) http://erdie08.student.ipb.ac.id/2011/11/09/). Adapun gejala lain seperti :
1. Mula mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat kemudian timbul diare
2. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau darah, warna tinja makin lama berubah menjadi kehijauan karena bercampur dengan empedu
3. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja yang asam
4. Naunesa, muntah, nyeri perut, demam, haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, anoreksia, lemah, turgor kulit menurun, suara menjadi serak, frekuensi nafas cepat, tekanan darah menurun, gelisah, pucat, ekstrimitas dingin, sianosis, anuria.

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

E. PATHWAY


F. PENATALAKSANAAN
1. Derajat Dehidrasi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
a. Kehilangan berat badan
1) Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
2) Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
3) Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%

b. Skor Mavrice King
Bagian tubuh
Yang diperiksa Nilai untuk gejala yang ditemukan
0 1 2
Keadaan umum

Kekenyalan kulit
Mata
Ubun-ubun besar
Mulut
Denyut nadi/mata Sehat

Normal
Normal
Normal
Normal
Kuat <120 Gelisah, cengeng
Apatis, ngantuk
Sedikit kurang
Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kering
Sedang (120-140) Mengigau, koma, atau syok
Sangat kurang
Sangat cekung
Sangat cekung
Kering & sianosis
Lemas >40
Keterangan
- Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan
- Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang
- Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat

Cara lain penentuan dehidrasi:


2. Penanganan
Tujuan penanganan diare adalah untuk mengurangi angka kesakitan. Secara umum terdapat 5 pedoman tata laksana diare yang disebut dengan 5 lintas tata laksana diare yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yaitu:
a. Rehidrasi. Usaha ini meliputi pemberian cairan minum berupa oralit untuk mencagah terjadinya dehidrasi.




b. Dukungan nutrisi. Anak yang diare tetap melanjutkan makan seperti biasa, termasuk pemberian ASI atau cairan lain seperti susu, kuah sop, sari buah atau minuman lain.
c. Suplementasi zinc. Pemberian Zinc 10-20mg per hari (tergantung umur). Usus membutuhkan zinc untuk memperbaiki jaringan mukosa yang rusak, peningkatan absorpsi, serta daya tahan tubuh. Untuk itu, peran zinc sangat vital, lebih dari 300 enzim bekerja di bawah pengaruh zinc, beberapa diantaranya berfungsi untuk memperbaiki pencernaan melalui regenerasi sel. Seiring dengan perbaikan jaringan mukosa, fungsi absorpsi juga meningkat ( http://raniseptiawantari.blogspot.com/2011/03/zinc-terobosan-baru-pengobatan-diare.html).
Obat Zinc merupakan tablet dispersible yang larut dalam waktu sekitar 30 detik. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut dengan dosis sebagai berikut:
1) Balita umur < 6 bulan: 1/2 tablet (10 mg)/ hari
2) Balita umur = 6 bulan: 1 tablet (20 mg)/ hari
Zinc diberikan dengan cara dilarutkan dalam satu sendok air matang atau ASI. Untuk anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah
Zinc aman dikonsumsi bersamaan dengan oralit. Zinc diberikan satu kali sehari sampai semua tablet habis (selama 10 hari) sedangkan oralit diberikan setiap kali anak buang air besar sampai diare berhenti. (http://www.smallcrab.com/anak-anak/1010-pemberian-zinc-pada-anak-diare)
Efek samping zinc biasanya berupa muntah dan rasa kecap metalik. Namun hal ini sangat jarang terjadi. Pelarutan yang baik seharusnya dapat menyamarkan rasa metalik tersebut. Untuk menekan resiko pneumonia, pemberian bersama dengan suplemen vitamin A dapat sangan membantu (http://raniseptiawantari.blogspot.com/2011/03/zinc-terobosan-baru-pengobatan-diare.html).
d. Antibiotik selektif. Menurut banyak penelitian, virus merupakan penyebab utama diare. Virus yang berperan pada infeksi ini adalah Rotavirus. Karena sebagian besar penyebab diare adalah virus, maka pemakaian antibiotik pada anak diare tidak direkomendasikan.
e. Edukasi. Usaha ini termasuk memberikan edukasi kepada ibu untuk terus memberikan cairan oralit semau anak, mengenali tanda-tanda dehidrasi dan kegawatan lain serta 5 lintas tata laksana diare. (http://pediatrician-pku-bantul.blogspot.com/2011_11_20_archive.html)


G. PENCEGAHAN
Untuk pencegahan diare pada anak dapat dilakukan dengan beberapa upaya praktis seperti :
1. Siapkan makanan yang bersih dan higienis. Sebaiknya kita memasaknya sendiri.
2. Penyediaan air minum yang bersih, tentunya di masak dengan baik.
3. Kebersihan perorangan, baik kebersihan anak maupun kebersihan orang yang merawat anak tersebut.
4. Cuci tangan sebelum makan. Biasakan ini sedari dini
5. Pemberian ASI eksklusif
6. Buang air besar pada tempatnya
7. Buang sampah pada tempatnya.
8. Lindungi makanan dari serangga, seperti lalat, semut dan sebagainya yang sering hinggap pada makanan.
9. Lingkungan hidup yang sehat (http://sobatsehat.com/2010/01/02/waspadai-diare-pada-anak-penanganan-dan-pencegahannya/)

Daftar Pustaka
a. Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Media Aesculapius
b. http://erdie08.student.ipb.ac.id/2011/11/09/
c. http://raniseptiawantari.blogspot.com/2011/03/zinc-terobosan-baru-pengobatan-diare.html
d. http://www.smallcrab.com/anak-anak/1010-pemberian-zinc-pada-anak-diare
e. http://pediatrician-pku-bantul.blogspot.com/2011_11_20_archive.html
f. http://sobatsehat.com/2010/01/02/waspadai-diare-pada-anak-penanganan-dan-pencegahannya/
g. http://farmasidinkesrl.wordpress.com/2008/10/25/diare-bukan-penyakit-sepele-2/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar