Kamis, 11 Maret 2010

HEPATITIS

• Penyakit Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Adapun beberapa hal yang menjadi pola penularan antara lain penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama. Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, akan tetapi umumnya bagi mereka yang berusia produktif akan lebih beresiko terkena penyakit ini.

1. Gejala Hepatitis B
Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis B
Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.
a. Pengobatan oral yang terkenal adalah ;
- Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
- Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
- Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan stabil.

b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah ;
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.

Langkah-langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit Hepatitis B adalah pemberian vaksin terutama pada orang-orang yang beresiko tinggi terkena virus ini, seperti mereka yang berprilaku sex kurang baik (ganti-ganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan mereka yang berada didaerah rentan banyak kasus Hepatitis B.

HBV
Bila pada tes HBV, ditemukan salah satu antigen HBV (antigen ‘e’), hal ini berarti yang bersangkutan HBeAg+ dan mempunyai infeksi kronis dengan daya menular yang tinggi. Pada fase infeksi HBV akut, pasien HBeAg+, tetapi biasanya HBeAg menjadi negatif bila jadi sembuh atau menjadi ‘pembawa’ (virus tidak mereplikasi), Namum bila HBeAg negatif, ada kemungkinan yang semakin tinggi bahwa ada infeksi dengan mutan pre-core HBeAg-negatif. Hal ini hanya dapat ditentukan dengan melakukan tes viral load HBV. Penyakit kronis HBV HBeAg-negatif umumnya lebih lanjut, lebih sering terjadi pada laki-laki berusia 36-45 tahun, dan jarang pulih sendiri (secara spontan). Infeksi ini ditandai oleh kadar ALT dan viral load yang naik-turun, peradangan yang berat pada hati, fibrosis lanjutan, dengan sampai 40 persen pasien mengalami sirosis, jauh lebih tinggi daripada orang tanpa mutan tersebut.
Pengobatan untuk HBV berkembang terus. Saat ini yang disetujui: interferon alfa (disuntik, efek samping berat, tidak menimbulkan resistansi, cenderung kurang efektif pada orang Asia, tidak efektif untuk Odha); lamivudin (3TC) (sampai 70 persen menjadi resistan setelah 4-5 tahun); adefovir (masalah resistansi jauh lebih rendah daripada lamivudin – 11 persen setelah 3 tahun, 18 persen pada 4 tahun); dan entacavir (belum ada di luar AS, tampaknya resistansi jarang). Sepertinya tidak ada manfaat dari terapi kombinasi.
Ada pernyataan kesepakatan Asia-Pasifik tentang penanganan hepatitis B kronis, yang diperbarui pada 2005. Pernyataan tersebut cukup lengkap, tetapi pada dasar hanya mereka dengan viral load HBV tinggi dan ALT di atas dua kali normal yang harus diobati.


HIV dan HBV
Koinfeksi dengan HIV mempengaruhi infeksi HBV: kerusakan pada hati lebih berat, dengan kelanjutan pada sirosis lebih cepat; risiko hepatotoksisitas dengan ARV lebih tinggi; prevalensi HBV kronis HBeAg-negatif cenderung lebih rendah; viral load HBV lebih tinggi; peningkatan pada ALT sering lebih rendah; dan risiko masalah hati dan kematian terkait HBV lebih tinggi. Sebaliknya, belum terbukti ada dampak oleh HBV pada penyakit HIV, walau ada kesan bahwa bila HBV bereplikasi secara aktif, mungkin hal ini adalah penyebab bersama dalam penurunan jumlah CD4. Namun, dampak koinfeksi ini terutama dirasakan terkait dengan pengobatan, karena beberapa analog nukleosida/nukleotida adalah aktif terhadap kedua virus. Jadi dokter yang menangani HBV harus bekerja sama dengan dokter yang menangani HIV, agar tidak ada kerugian pada salah satu infeksi akibat pengobatan untuk yang lain.
Oleh karena itu, ada beberapa persyaratan sebelum mulai terapi: selalu menilai status HBV sebelum mulai ART; perhatian risiko terjadinya flare, yang lebih tinggi bila viral load HBV tinggi, dan CD4 rendah; risko hepatotoksisitas tinggi dengan ritonavir (kandungan Kaletra), dan nevirapine, serta juga dengan obat TB dan flukonazol; sindrom pemulihan kekebalan (IRIS) dapat terjadi bila CD4 rendah – steroid dapat dipakai untuk mengurangi dampak IRIS, tetapi penggunaannya kontroversial.
Untuk Odha yang belum membutuhkan ART, terapi anti-HBV dapat dipertimbangkan berdasarkan ALT, tetapi viral load HBV harus diukur dulu, dan mungkin juga hasil biopsi. Sebaiknya lamivudin (3TC) tidak dipakai; pilihan lebih baik adalah interferon, adefovir atau entecavir (tetapi belum jelas ketersediaan atau harganya di Indonesia).
Untuk Odha yang belum terpajan HBV, sebaiknya dipertimbangkan untuk vaksinasi. Kemungkinan vaksinasi berhasil lebih rendah bila CD4 di bawah 500, jadi sebaiknya dipertimbangkan sedini mungkin setelah diagnosis HIV. Untuk Odha dengan CD4 rendah, ada alternatif meningkatkan takaran vaksin dua kali lipat, dan sebaikanya ditentukan apakah berhasil setelah vaksinasi ketiga; bila belum vaksinasi dapat dicoba lagi, mungkin setelah CD4 sudah naik akibat penggunaan ART.
Sepertinya ada keraguan apakah vaksinasi terhadap HBV pada masa kanak-kanak efektif pada Odha untuk seumur hidup. Dr. Wenny dari Mataram mengusulkan dilakukan tes HBsAg dan HBsAb setiap enam bulan pada Odha, tetapi hal ini belum baku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar